Halaman

Jumat, 05 November 2010

Pesan dari Alam Untuk Bangsaku

Alam seakan sudah tak bersahabat lagi dengan manusia. Alam yang dulu indah dan nyaman bagi manusia, kini berubah menjadi musuh dan maut bagi mereka. Berbagai cobaan dan musibah silih berganti datang menghantam dunia ini, khususnya bangsa kita. Mulai dari banjir, meletusnya gunung merapi, gempa, dan tsunami seakan antri untuk menimpa bangsa ini. Banyak para ahli mengatakan bahwa hal ini terjadi karena letak geografis negara kita yang memang rentan untuk ditimpa bencana alam. Mulai dari pertemuan dua lempeng tektonik terbesar yang berada di bawah permukaan negeri ini. Negara kepulauan terbesar didunia dan rentan di hantam tsunami. Negeri dengan daerah tropis yang ciri-cirinya memiliki curah hujan yang tinggi di musim penghujan sehingga rentan banjir. Dan banyak lagi potensi-potensi lainnya. Makanya, hal inipun dijadikan alasan bagi pemimpin di negeri ini untuk berkilah dari musibah yang menimpa rakyatnya. Ada yang bilang "jangan tinggal di sekitar pesisir pantai kalau tak ingin terkena tsunami, ada juga yang bilang "kalau tak ingin terkena imbas gunung merapi, jangan tinggal di sekitar lereng gunung. Bahkan ada pula yang mengatakan begini "kalau hujan lantas banjir, jangan salahkan saya". Ini terlontar dari pemimpin bangsa, pelayan rakyat, dan atau pengurus rakyat. Tapi, entah kenapa perkataan mereka seakan hanya menambah penderitaan mereka yang terkena musibah. Mereka seakan gak punya hati dan tidak peka akan kondisi yang dihadapi rakyatnya. Belum lagi mereka-mereka yang plesir ke luar negeri di tengah bencana melanda rakyatnya, dengan mengatasnamakan rakyat, dengan mengatasnamakan studi banding demi kemajuan bangsa dan lain-lain yang seakan menambah sakit hati rakyat bangsa ini. Mungkin ada baiknya mereka belajar kepekaan sosial saja yah daripada belajar etika di negeri orang (baca: Yunani). Ironis memang bangsa ini, contoh paling konkret, Gubernur Sumut ke Jerman di saat rakyatnya di Mentawai dan sekitarnya lagi pontang-panting setelah diterpa musibah. Inikah yang namanya dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat? Omong Kosong!!!!!!

Letak geografis atau apalah alasan mereka memang bisa dibenarkan dari konteks keilmuan, apalagi bagi rakyat kita yang masih awam jika dijelaskan hal demikian. Namun ketika bencana maupun musibah seakan sudah menjadi santapan harian bangsa ini, apakah alasan tadi masih bisa langsung diterima? tidak!! Tapi, ada yang salah pada negara ini. Cukuplah kita mengkambinghitamkan alam. Alam tidak akan semarah ini jika manusia tidak melakukan hal-hal yang bisa membuat kerusakan. Keseimbangan ekosistem harus di jaga. Dan disinilah peran manusia dengan akal yang ia punya. Namun sepertinya akal lebih sanggup untuk merusak daripada menjaganya. Di surah Ar Rum ayat 41, Allah menegaskan ”Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan oleh perbuatan tangan manusia supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.


Alam seakan memberikan kita pesan melalui bencana yang terjadi Pesan agar manusia mau menjaganya, pesan agar mau merawatnya, dan pesan agar tidak merusaknya. Bahkan juga alam seakan memberi sinyal bahwa perlu ada perubahan total pada bangsa ini. Misalnya perubahan mental maupun moral para pemimpin bangsa ini. Kerusakan yang dipaparkan dalam ayat di atas bukan hanya semata kerusakan yang diakibatkan bencana, tapi juga kerusakan-kerusakan yang diakibatkan oleh keserakahan maupun ketidakpekaan manusia khususnya para penguasa negeri ini. keserakahan yang menyebabkan tingkat kemiskinan semakin tinggi, ketidakpekaan yang menyebabkan dalamnya jurang kesenjangan baik di ekonomi, sosial, politik maupun hukum. Ini juga kerusakan-kerusakan yang saat ini terjadi di bumi pertiwi.
Lantas apa reaksi kita untuk membalas pesannya????
Tiada jalan selain kembali ke jalan  Allah SWT, Sang Pencipta. Jalan yang Allah berkahi dan ridhoi.
Allah SWT telah memerintahkan kita untuk memiliki akhlak yang baik kepada-Nya, akhlak yang baik kepada sesama manusia, dan akhlak yang baik kepada lingkungan/alam. Ini tertuang dalam hadits baginda Rasulullah SAW yang menyuruh kita untuk menyempurnakan akhlak kita kepada Allah SWT, kepada sesama manusia, dan juga kepada alam semesta.
Semoga bangsa ini pada umumnya, dan para pemimpin kita pada khususnya bisa mereply message yang alam kirimkan kepada negeri ini. Dan Insya Allah, jika ada perbaikan-perbaikan signifikan di negeri ini, laporan yang kita akan terima setelah mereply pesannya adalah delivered....................

Tidak ada komentar:

Posting Komentar